<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Indigo World</title>
	<link>http://indigo.warnetnews.com</link>
	<description>The Indigo World News</description>
	<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 19:30:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Vincent Liong (Indigo Guys) vs Andy F Noya (Kick Andy)</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/04/18/vincent-liong-indigo-guys-vs-andy-f-noya-kick-andy/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/04/18/vincent-liong-indigo-guys-vs-andy-f-noya-kick-andy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 19:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Andy F Noya]]></category>

		<category><![CDATA[Indigo guys]]></category>

		<category><![CDATA[kick andy]]></category>

		<category><![CDATA[Metro TV]]></category>

		<category><![CDATA[vincent liong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/04/18/vincent-liong-indigo-guys-vs-andy-f-noya-kick-andy/</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan Juli tahun 2004 Vincent Liong pernah mengalami sengketa dengan pihak Metro TV mengenai cara interview dan penayangan program bertema Indigo yang dibahas dalam beberapa email:
* Subject: (Help me please) Shit Happen! In my Interview Today
At:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/2926
* Subject: Metro TV Menghargai Objek Wawancara Psikologis sebagai Individu Pesakitan.
At:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/2938
Pada hari Selasa, 13 Februari 2007 Vincent Liong dishooting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bulan Juli tahun 2004 Vincent Liong pernah mengalami sengketa dengan pihak Metro TV mengenai cara interview dan penayangan program bertema Indigo yang dibahas dalam beberapa email:<br />
* Subject: (Help me please) Shit Happen! In my Interview Today<br />
At:<br />
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/2926</p>
<p>* Subject: Metro TV Menghargai Objek Wawancara Psikologis sebagai Individu Pesakitan.<br />
At:<br />
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/2938</p>
<p>Pada hari Selasa, 13 Februari 2007 Vincent Liong dishooting oleh Metro TV untuk membahas tentang latar belakang Vincent Liong sebagai anak Indigo dan membahas Kompatiologi. Vincent Liong sudah mewanti-wanti pihak Kick Andy untuk tidak ngawur dalam menyudutkan pihak yang dijadikan korban dalam acara karena saya dan Metro TV pernah konflik secara tertulis soal kasus seperti ini.</p>
<p>Shooting berlangsung dengan pembagian waktu sbb:<br />
Scene 1: Ario Handyojati anak Indigo dengan Orangtua.<br />
Scene 2: Latar belakang Pribadi &amp; sudutpandang Vincent Liong.<br />
Scene 3: SOP Project Kompatiologi.<br />
Scene 4: Sudut pandang Psikiater Dr. Tb Erwin Kusuma.<br />
Scene 5: Sudut pandang Paranormal Mama Laurent.</p>
<p>Masing-masing scene berdurasi 9 menit. Durasi shooting 45 menit + iklan 15 menit (yang diletakkan antara scene yang satu ke scene selanjutnya) . Durasi tayang 60 menit.</p>
<p>Ketika penayangan, bagian tanya jawab antara Andy dengan Vincent Liong dipotong (jawaban saya) secara kasar lebih dari setengahnya, Andy juga tampak tidak menguasai acara, sehingga tidak ada yang bisa terjelaskan soal kompatiologi (yang tujuan saya untuk membuka realitas bahwa Indigo itu bisa diproduksi / dimanipulasi dengan mudah), yang dimunculkan kesan<br />
anehnya saja, karena hanya menjadi hanya kurang dari 9 menit. Untungnya Vincent Liong masih dapat menyelipkan sebagian kecil diantara point-point sbb misalnya:</p>
<p>&#8220;Kalau kita berbicara seorang nabi maka kita berbicara tentang sesuatu yang sifatnya past tense (masa lampau) tentang seseorang yang telah melakukan sesuatu yang kongkrit bagi masyarakat, itu pun masih disebut sebagai bidang non logika alias metafisika dan agama.<br />
Dalam pembahasan Indigo ini kita melihat orang-orang dengan gelar, jabatan, berijasahkan sebagai kaum berpendidikan yang dianggap logis tetapi berbicara tentang masa depan seorang anak kecil yang biasanya berumur kurang dari sepuluh tahun (Dalam acara Kick Andy menggunakan anak SMP yaitu si Jati) bahwa di masa depan (beberapa puluh tahun ke depan) yang sifatnya future tense akan menjadi penuntun jaman tanpa ada hal kongkrit tentang tindakan si anak terhadap masyarakat yang bersifat past tense. Para ahli bergelar, jabatan<br />
dan berijasah (Psikiater &amp; Psikologi) ini tidak memperhitungkan bagaimana keluguan masyarakat<br />
Indonesia ini yang langsung mengurutkan begitu saja bahwa sesuatu yang bergelar, ijasah, dlsb berarti logis (dapat dilogikakan) sehingga efek samping ke anak Indigo adalah setelah dipropagandakan sebagai anak indigo memang senang sesaat, tetapi setelah sadar maka akan memaksa si anak kabur menyepi dari semua orang (orangtua, teman, masyarakat) biasanya mulai 3 bulan sampai setengah tahun setelah shooting, karena tidak ada plihan bebas lagi sebagai anak kecil, tidak ada lagi pilihan mau jadi apa di masa depan kecuali menjadi penyelamat yang harus menolong orang lain dengan mengabaikan faktor pribadi diri sendiri atau dianggap messias gagal, atau indigo banci/cacat.</p>
<p>Dimanakah tanggungjawab ilmiah kaum bergelar dan berijasah tsb terhadap kepercayaan masyarakat?&#8221;</p>
<p>Saya buka rahasia soal si Jati, yang dijadikan tontonan oleh pihak Metro TV yaitu si Jati adalah<br />
hasil manipulasi dari Psikiatri Dr. Erwin. Kemampuan menulis sesuatu yang dianggap mirip tulisan Cina tetapi tidak dapat diartikan adalah hasil ajaran Dr.Erwin yang namanya Hipnografi. Caranya adalah dengan memegang pensil dan berusaha menurunkan kesadaran hingga tangan jadi bergerak sendiri tidak beraturan.</p>
<p>Business Labeling Ketidaknormalan Anak memang Menguntungkan karena memanipulasinya tidak sulit. Tetapi dimanakah hati nurani anda?! Bagaimanakah nasib anak-anak korban dari business anda selanjutnya? Ini saya tanyakan kepada Andy F Noya dan Metro TV…</p>
<p>bagi yang mau menonton ulang, silahkan ditonton program Kick Andy di Metro TV tanggal 11 Maret 2007 jam 15.05. Silahkan lihat bagian mana yg dipotong secara kasar. (Vincent Liong)</p>
<p>Saya menonton tayangan ulangnya, dan memang terkesan banyak adegan yang jelas dipotong. entah apakah ini memang karena keterbatasan waktu&#8230; tetapi point yang Anda sampaikan bagus, Vincent. bahwa ketika seorang anak sudah &#8216;dikondisikan&#8217; untuk menjadi &#8217;sesuatu&#8217;, seringkali kita tidak memikirkan beban berat yang harus diemban oleh anak yang bersangkutan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/04/18/vincent-liong-indigo-guys-vs-andy-f-noya-kick-andy/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Ardi, Cita dan Annisa si Anak Indigo</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-ardi-cita-dan-annisa-si-anak-indigo/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-ardi-cita-dan-annisa-si-anak-indigo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 11:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-ardi-cita-dan-annisa-si-anak-indigo/</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda, tetapi Bukan Anak “Aneh” Sepanjang perjalanan menuju rumah nenek, Ardi, sebut saja begitu, seperti tidak bergerak. Wajahnya pucat pasi. Ia terus menutupi telinganya. Sang ibu tak berani mengusik anak sulungnya. “Saya sebenarnya heran, kok Ardi nangisnya sampai begitu waktu mendengar kabar ibu saya meninggal. Enggak seperti anak kecil lain yang kehilangan neneknya. Sedih ya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda, tetapi Bukan Anak “Aneh” Sepanjang perjalanan menuju rumah nenek, Ardi, sebut saja begitu, seperti tidak bergerak. Wajahnya pucat pasi. Ia terus menutupi telinganya. Sang ibu tak berani mengusik anak sulungnya. “Saya sebenarnya heran, kok Ardi nangisnya sampai begitu waktu mendengar kabar ibu saya meninggal. Enggak seperti anak kecil lain yang kehilangan neneknya. Sedih ya sedih, tapi enggak gitu-gitu amat,” ujar Dewi.</p>
<p>Begitu turun dari mobil, Ardi seperti terkesima melihat sesuatu di pintu masuk. Ketika mencium jenazah neneknya, tiba-tiba ia kembali menutupi telinganya dan tampak ketakutan. Pandangannya terus menuju ke luar pintu. Setelah itu Ardi mengatakan kepalanya sakit, dan tidak ikut ke makam.</p>
<p>Menjelang tengah malam, Ardi menanyakan apakah ibunya mendengar suara petir siang tadi. Sang ibu menjawab, “Tidak.” “Masak Mama enggak dengar, kan keras sekali dan terus- terusan, Ma,” kata Dewi menirukan ucapan Ardi saat itu. “Sehabis itu Ardi menceritakan semuanya,” lanjut Dewi. Selain petir, Ardi melihat burung besar di pintu rumah sang nenek. “Burung itu enggak pergi-pergi,” ujar Ardi seperti ditirukan Dewi.</p>
<p>Saat mencium neneknya, Ardi melihat sang nenek berjalan menuju sebuah gerbang. Saat itu Ardi mendengar suara petir lagi, yang lebih keras dari sebelumnya, dan ia menyaksikan neneknya melangkah melewati gerbang, terus berjalan menuju tempat yang ia katakan “indah sekali”.</p>
<p>Peristiwa itu bukan yang pertama, sehingga Dewi dan suaminya tidak lagi terkejut mendengar penuturan anak mereka. “Dia sering melihat macam- macam, tetapi biasanya diam. Ia hanya mau berbicara sesudahnya, pelan-pelan dan hanya kepada orang tertentu,” sambung Dewi.</p>
<p>Usia Ardi kini menjelang 10 tahun. Di sekolah ia termasuk cerdas. IQ-nya antara 125-130. “Tapi gurunya bilang ia suka bengong di kelas,” sambung Dewi. Kepada ibunya, ia bercerita melihat macam-macam di sekolah, yang tidak bisa dilihat orang lain, di antaranya anak tanpa anggota badan, dan ia merasa sangat kasihan.</p>
<p>Suatu hari saat belajar di rumah ia tersenyum. Ketika ditanya oleh sang ibu, ia mengatakan ada anak persis sekali dengan dirinya. Hari berikutnya ia bercerita, anak itu datang di sekolahnya. Ketika ditanya di mana ia tinggal, anak itu menjawab, “Di sana,” sambil telunjuknya menunjuk ke arah atas. “Ada apa di sana?” tanya Ardi. Anak itu menjawab, “Ada orang gede- gede buanget. Anak itu omongnya juga medhok lho Ma, kayak aku, persis,” tutur Ardi seperti diceritakan kembali oleh Dewi. Tentu tak ada orang lain melihat “anak itu” kecuali Ardi.</p>
<p>Dewi dan suaminya memahami apa yang terjadi pada Ardi dan juga adiknya. Beberapa anggota keluarganya juga memiliki kepekaan lebih dibandingkan dengan orang kebanyakan. Pada Ardi hal itu sudah terdeteksi saat masih bayi. “Kalau dengar suara azan, Ardi tampak mendengarkan dengan penuh konsentrasi,” kenang Dewi. Menjelang usia 1,5 tahun, Ardi membaca kalimat syahadat secara sambung-menyambung seperti wirid. Sesudah bisa jalan, sebelum usia dua tahun, ia mulai mengambil sajadah sendiri, memakai sarung sendiri dan membuat gerakan seperti orang shalat, meskipun bukan waktu shalat.</p>
<p>Toh tingkah laku Ardi membuat Dewi merasa agak risau. “Ia melihat dan mendengar apa saja yang orang lain enggak bisa lihat dan enggak bisa dengar,” katanya. Ia tidak menceritakan situasi anaknya itu pada setiap orang di luar keluarga. “Kalau enggak percaya bisa-bisa anak itu dianggap berkhayal,” lanjutnya.</p>
<p>Dewi tidak mengecap anaknya berkhayal, karena dalam beberapa hal ia juga memiliki kepekaan itu, meski hanya sampai tingkat tertentu. “Suatu sore, sehabis shalat, saya merasa ada bayangan putih. Ardi rupanya juga melihat karena ia tersenyum. Dia bilang, ‘Ma, ada yang ngikutin, perempuan. Tapi orangnya baik sekali.’ Ketika saya tanya siapa, Ardi tidak menjawab.”</p>
<p>Suatu hari, Dewi membaca majalah yang menulis tentang tanda-tanda anak indigo. “Lha saya pikir kok persis sekali sama anak saya. Lalu saya berusaha menemui dr Erwin di Klinik Prorevital.”</p>
<p>Anak - anak dengan kemampuan seperti Ardi bukan hal yang baru di dunia, tetapi fenomenanya semakin jelas 20 tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan kemampuan anak dan manusia dewasa dengan kemampuan semacam itu, di antaranya The Sixth Sense, dan film-film seri seperti The X Files.</p>
<p>Menurut dr Tubagus Erwin Kusuma SpKj, psikiater yang menaruh perhatian pada masalah spiritualitas, anak-anak seperti itu semakin muncul di mana-mana di dunia, melewati batas budaya, agama, suku, etnis, kelompok, dan batas apa pun yang dibuat manusia untuk alasan-alasan tertentu.</p>
<p>Fenomena itu menarik perhatian banyak pihak, karena dalam paradigma psikologi manusia, anak-anak itu dianggap “aneh”. Pandangan ini muncul karena selama ini kemanusiaan telanjur dianggap sebagai hal yang statis, tak pernah berubah. “Padahal, semua ciptaan Tuhan selalu berubah,” ujar dr Erwin.</p>
<p>Sebagai hukum, masyarakat cenderung memahami evolusi tapi hanya untuk yang berkaitan dengan masa lalu. “Fenomena munculnya anak-anak dengan kemampuan seperti itu merupakan bagian dari evolusi kesadaran baru manusia, yang secara perlahan muncul di bumi, terutama sejak awal milenium spiritual sekitar tahun 2000 yang disebut Masa Baru, The New Age, atau The Aquarian Age. Semua ini merupakan wujud kebesaran Allah,” tegas Erwin.</p>
<p>Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya, tetapi batinnya tua (old soul) sehingga tak jarang memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua. Sering kali ia tak mau diperlakukan seperti anak kecil dan tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang ada. Kebanyakan anak indigo juga memiliki indra keenam yang lebih kuat dibanding orang biasa. Kecerdasannya di atas rata-rata.</p>
<p>Istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Istilah “anak indigo” atau indigo children juga merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.</p>
<p>Pada pertengahan tahun 1970-an Nancy meneliti warna aura manusia dan memetakan artinya untuk menandai kepribadiannya. Tahun 1982 ia menulis buku Understanding Your Life Through Color. Penelitian lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar perangai manusia melalui warna aura mendapat dukungan psikiater Dr McGreggor di San Diego University.</p>
<p>Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna nila yang muncul kuat pada hampir 80 persen aura anak-anak yang lahir setelah tahun 1980. Warna itu menempati urutan keenam pada spektrum warna pelangi maupun pada deretan vertikal cakra, dalam bahasa Sansekerta disebut cakra ajna, yang terletak di dahi, di antara dua alis mata.</p>
<p>“Itulah mata ketiga,” ujar dr Erwin. The third eye itu, menurut dia, berkaitan dengan hormon hipofisis (pituary body) dan hormon epificis (pineal body) di otak. Dalam peta klasifikasi yang dibuat Nancy, manusia dengan aura dominan nila dikategorikan sebagai manusia dengan intuisi dan imajinasi sangat kuat.</p>
<p>“Letak indigo ada di sini,” jelas Tommy Suhalim sambil menjalankan perangkat teknologi pembaca aura, aura video station (AVS). Alat yang protipenya dibuat oleh Johannes R Fisslinger dari Jerman tahun 1997 ini lebih canggih dibandingkan perangkat teknologi serupa yang ditemukan Seymon Kirlian tahun 1939, dan Aura Camera 6000 yang dibuat Guy Coggins tahun 1992 berdasarkan Kirlian Photography.</p>
<p>Tom menunjukkan titik berkedip berwarna nila tua, sangat jelas di antara kedua mata Vincent Liong (19). Murid kelas dua tingkat SLTA di Gandhi International School itu sudah menulis buku pada usia 14 tahun dan bukunya diterbitkan oleh penerbit terkemuka di Indonesia. Buku Berlindung di Bawah Payung itu merupakan refleksi, berdasarkan kejadian sehari- hari yang sangat sederhana.</p>
<p>Pergulatan pemikiran yang muncul dalam tulisan-tulisannya kemudian seperti datang dari pemikiran orang bijak, dan menjadi bahan pembicaraan. Pemilihan angle-nya tidak biasa, dan hampir tidak terpikir bahkan oleh orang dewasa yang menekuni bidang itu. Belakangan ia banyak menulis soal spiritual, namun tetap dilihat dalam konteks ilmiah dan rasional.</p>
<p>Mungkin karena minatnya yang sangat besar pada dunia tulis-menulis, Vincent tidak terlalu berminat dengan beberapa mata pelajaran di sekolahnya. Orangtuanya yang tergolong demokratis pun sering tidak mengerti apa yang diingini anaknya yang ber-IQ antara 125-130 ini. “Dia keras kepala. Kemarin ia tidak mau ikut ujian matematika,” sambung Liong, ayahnya.</p>
<p>Vincent mengaku “takut” pada matematika sejak kecil, tapi mengaku disiplin pada aturan mainnya sendiri. “Sejak kecil aku bingung pada dogma satu tambah satu sama dengan dua. Aku juga bingung dengan ilmu ekonomi karena dalam realitas sosial berbeda,” tegas Vincent.</p>
<p>Toh sang ibu sudah menengarai keistimewaan anaknya sejak bayi. Waktu SD, Vincent biasa bergaul dengan gurunya, dan orang-orang setua gurunya. Pertanyaannya banyak dan sangat kritis. “Saya langganan dipanggil guru bukan hanya karena anak itu sulit. tetapi juga karena karangan-karangannya membuat guru-gurunya kagum,” ujar Ny Ina.</p>
<p>Vincent sudah menulis tentang teleskop berdasarkan pengamatan dan referensi pada usia SD. “Di rumah ia membawa ensiklopedi yang besar- besar itu ke kamarnya,” ujar Ny Ina. “Kamarnya kayak kapal pecah. Tidurnya dini hari karena menulis,” sambung Liong. “Saya sering meminta agar ia menyelesaikan pendidikan formalnya dulu, karena bagaimanapun itu sangat penting,” lanjut Liong.</p>
<p>“Pendidikan formal sangat penting karena anak-anak indigo harus membumikan ‘ilmu langitnya’ untuk kebaikan manusia. Bukan sebaliknya,” ujar Rosini (40). Ia menganjurkan, agar anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda itu tidak dieksploitasi oleh orangtua dan lingkungannya untuk mencari nomor togel atau menjadi dukun atau klenik. “Bukan itu misi anak-anak indigo,” tegas Rosi.</p>
<p>Anak-anak itu sebenarnya punya mekanisme pertahanannya sendiri. <strong>Annisa Rania Putri</strong>, misalnya. Gadis kecil berusia 4,5 tahun ini tiba-tiba berbicara dalam bahasa Inggris beraksen Amerika begitu ia bisa bicara pada usia 2,5 tahun. Padahal orangtuanya tidak berbahasa Inggris dengan baik. Meski tampak menggemaskan, dalam banyak hal ia berbicara dan bersikap seperti orang dewasa, bahkan menyebut dirinya “orang Amerika” karena “datang dari Amerika”. Nisa menyebut ibunya, Yenny bukan dengan panggilan mama.</p>
<p>Kemampuan melihat dan mendengar Nisa sangat tajam pada pukul 23.00 sampai dini hari. Tetapi kalau secara sengaja diminta memperlihatkan kemampuannya, ia akan menolak dengan tidak memperlihatkan kemampuan itu sehingga ia tampak seperti anak-anak lainnya,” ujar Yenny. Kata sang ibu, Nisa tidak mudah bersalaman dengan orang. Ia seperti tahu orang yang suka pergi ke dukun atau memakai jimat. Namun sebagai anak-anak Nisa juga suka menyanyi dan bermain.</p>
<p>Jenis dan kemampuan anak indigo bermacam-macam. Meski memiliki kepekaan yang kuat, kepekaan mendengar dan melihat sesuatu yang tidak didengar dan dilihat orang kebanyakan, berbeda-beda gradasinya.</p>
<p>Menurut Lanny Kuswandi, fasilitator program relaksasi di Klinik Prorevital, mengutip dr Erwin, “Ada tipe humanis, tipe konseptual, tipe artis, dan tipe interdimensional. Pendekatan terhadap mereka juga berbeda-beda,” sambungnya.</p>
<p>Namun karena dianggap “aneh”, tak jarang diagnosisnya keliru dan penanganannya lebih bersandar pada obat-obatan. “Ada anak indigo yang dianggap autis, ADHD (Attention-Deficit Hyperatictve Disorder) maupun ADD (Attention Deficit Disorder). Padahal tanda-tandanya berbeda,” sambung Erwin. Kekeliruan semacam ini juga terjadi di AS, karena banyak ahli menganggap anak-anak itu menderita “gangguan” yang harus dihilangkan.</p>
<p>“Saya beberapa kali pergi ke psikolog dan psikiater,” ujar Rosini. Profesional di suatu perusahaan swasta terkemuka itu suatu saat dalam hidupnya merasa sangat terganggu oleh suara-suara itu. Orangtuanya juga merasa anaknya “aneh” karena kerap memberi tahu peristiwa yang akan terjadi, tetapi menolak mengakui kemampuan anak itu.</p>
<p>“Dalam tes yang dibuat oleh mereka, saya dinyatakan sehat. Tidak ada gangguan apa pun,” sambung Rosini. Sebaliknya, ia melihat psikolog dan psikiater yang melakukan tes terhadap dirinyalah yang bermasalah. Ia juga pernah mencoba mencari paranormal untuk membuang kemampuannya itu, meski suara-suara itu mengatakan “jangan”.</p>
<p>Akhirnya Rosi berdamai dengan dirinya dan mengembalikan kemampuannya sebagai wujud kebesaran Allah SWT, dengan berusaha untuk terus mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Karena itu ia ingin membantu orangtua dengan anak-anak indigo agar anak- anak itu tidak melewati masa pencarian yang rumit seperti dirinya.</p>
<p>Indigo children, menurut Erwin, bukan fenomena terakhir, karena akan lahir anak-anak yang disebut sebagai crystal children. “Anak-anak dengan warna dasar aura, bening dan lengkap. Mereka lahir dari orangtua yang spiritual.”</p>
<p>Mungkin Cita (9) termasuk anak itu. Keluarganya, sampai nenek-neneknya, spiritualis. Ia bisa melihat sinar dan malaikat di rumah ibadah, khususnya ketika orang-orang sedang berdoa. Ini hanya salah satu kemampuan “melihat” milik anak yang selalu mendapat rangking di sekolah itu. Cita tahu kapan hujan akan turun hari itu dan sebaliknya, meskipun mendung sudah menggantung.</p>
<p>“Ia menjadi teman dan penasihat kami, bapak-ibunya. Di sekolah, di keluarga besar kami, terasa ia menebarkan aura kedamaian dan kebahagiaan. Anak itu sangat tenang dan pemaaf,” ujar ibunya, Ny Dita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-ardi-cita-dan-annisa-si-anak-indigo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aura Video Camera</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/aura-video-camera/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/aura-video-camera/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/aura-video-camera/</guid>
		<description><![CDATA[AURA VIDEO CAMERA
Digital Aura Imaging Photography System

Aura Video Camera screenshot
The Aura Video Camera system shows your aura on a PC monitor.  You see your head and shoulders surrounded by your aura which fluctuates in colour, size and intensity depending on your reactions to what is happening at the time.  It also portrays your [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>AURA VIDEO CAMERA</strong><br />
Digital Aura Imaging Photography System</p>
<p><img src="http://www.winfalcon.com/images/aura/AVC.jpg" alt="Aura Video Camera" /><br />
Aura Video Camera screenshot</p>
<p>The Aura Video Camera system shows your aura on a PC monitor.  You see your head and shoulders surrounded by your aura which fluctuates in colour, size and intensity depending on your reactions to what is happening at the time.  It also portrays your personal characteristics.</p>
<p>The Aura Video Camera is an excellent tool for monitoring changes in your aura when using crystals, remedies, having healing, or accessing different states such as meditation or linking to Spirit.  Examples of how you could use the Aura Video Camera are below:</p>
<p>AURA  ANALYSIS<br />
- Determine your client&#8217;s personality profile and emotional-energetic well-being.<br />
- Find the “right” product or treatment at the beginning of your session</p>
<p>PRODUCT AND SERVICE TESTING<br />
- Test the Effects of your Products and Services and see real-time changes onscreen</p>
<p>AURA PERSONALITY REPORT<br />
- Print out an Aura Image and 12 page Report.</p>
<p>BEFORE AND AFTER  PICTURES<br />
- Show the results of your Treatments, Services and Products<br />
- Validate the healing effect of your work (Energy Medicine Therapies, Reiki, Aromatherapy, etc.)<br />
- Show the effects of healing on the healer</p>
<p>Hand Sensor for moving aura images This is an easy system to use.  Put your hand on the sensor, open the program and position yourself so your head and shoulders are in the centre of the image.  Then you can just watch your aura fluctuate or freeze the image to do a printout.</p>
<p>You can freeze and print the screen image with a brief colour analysis on glossy or plain paper,from postcard size upwards.  You can also print a 12-page personal report giving an aura colour analysis.  This longer report will also show a full-body image with your aura and chakras superimposed on a stylised silhouette.  You can add your own information and recommendations to the printout if required.</p>
<p>Aura report front page</p>
<p>AURA PHOTO<br />
Aura Video Camera face for printout</p>
<p>BLUE GREEN social, communicative, heartful</p>
<p>The Aura Report is available in 10 languages: English, Spanish, Portuguese, French, German, Lithuanian, Polish, Japanese, Chinese, Italian.<br />
Other languages will be available soon.</p>
<p>The DIGITAL AURA VIDEO CAMERA can be installed to any Desktop or Laptop Computer. The minimum PC requirements are:  P III processor, CD-ROM drive, min. 128 MB RAM, 3 GB free HD Space, free Serial (DB9) Port, free USB Port, Windows 95/98/Me (not Windows 2000), MS Word 2000.</p>
<p>The DIGITAL AURA VIDEO CAMERA PACKAGE includes the hand sensor, digital web camera, software, manual, colour analysis guide book, multimedia training package on CD-ROM, 1 year warranty.</p>
<p>We can supply you with the Aura Video Camera software pre-loaded onto a PC if you would prefer to buy it as an All in One package.</p>
<p>We offer training on our premises and a 30-day hotline service, after which there is ongoing support in office hours.</p>
<p>If you would like us to contact you with prices and any other information, please click the picture below.</p>
<p>The place to buy Aura Photo Tools is http://www.winfalcon.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/aura-video-camera/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah-kisah Anak Indigo</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-kisah-anak-indigo/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-kisah-anak-indigo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-kisah-anak-indigo/</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari majalah LIBERTY 11-20 April 2005
SUATU hari di paruh Desember 1997. Di dalam tidurnya yang tenang, Andrean Ganie Hendrata tiba-tiba terbangun. Ada semacam ketakutan yang baru dilihatnya. Keringat dingin merembes dari pori-pori kulitnya yang kuning. Wajahnya yang kalem seketika berubah sedih. Kedua pipi bocah berusia enam tahun itu basah oleh air mata. Ia tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikutip dari majalah LIBERTY 11-20 April 2005</p>
<p>SUATU hari di paruh Desember 1997. Di dalam tidurnya yang tenang, Andrean Ganie Hendrata tiba-tiba terbangun. Ada semacam ketakutan yang baru dilihatnya. Keringat dingin merembes dari pori-pori kulitnya yang kuning. Wajahnya yang kalem seketika berubah sedih. Kedua pipi bocah berusia enam tahun itu basah oleh air mata. Ia tak kuasa membendung kesedihannya.</p>
<p>Di dalam mimpinya itu, Andrean melihat sebuah kota ingar-bingar. Banyak rumah dan mobil terbakar, tangan-tangan mengepal, perempuan menjerit-jerit, dan kaum pria dipukuli tanpa sebab jelas. Ia tak tahu kapan dan di mana peristiwa dalam mimpinya itu terjadi. Yang pasti, &#8220;Mimpi serupa terjadi selama dua minggu berturut-turut,&#8221; Lianny Hendranata, ibu Andrean, menuturkan.</p>
<p>Mimpi mengerikan yang bertubi-tubi selama dua pekan itu membuat fisik Andrean makin loyo. Dan, bocah kurus itu akhirnya jatuh sakit. Tapi Lianny menyadari sepenuhnya bahwa anaknya tidak sakit sembarangan. Itu sebabnya, dia tidak membawa anaknya ke dokter. Si ibu justru mengundang pendeta untuk mengobati jiwa anaknya.</p>
<p>Sang pendeta pun datang. Ia membaca doa-doa di tepi pembaringan Andrean. Terasa simpel, tapi berhasil. Sebab, hari-hari berikutnya Andrean tak pernah lagi bermimpi buruk tentang sebuah kota yang tercabik-cabik anarkis. Kesehatannya kembali pulih.</p>
<p>Enam bulan sejak mimpi itu berlalu, Jakarta dilanda kerusuhan hebat. Penjarahan, pembakaran, penganiayaan terjadi pada Mei 1998. Tragedi itu ditayangkan oleh semua stasiun TV. Saat itulah ingatan Andrean kembali &#8220;dibangunkan&#8221;. Sembari menunjuk ke arah pesawat televisi, ia bilang: &#8220;Ma, itu yang aku lihat di mimpiku dulu!&#8221;</p>
<p>Sejak lahir, Andrean sudah menunjukkan kemampuan indra keenamnya. Malah, sejak bayi dia terbiasa melihat makhluk yang tak terlihat oleh indra biasa. Setelah besar, kemampuan Andrean makin sempurna. Kadang-kadang ia melihat sebuah benda bisa bergerak sendiri. &#8220;TV yang sudah dimatikan tahu-tahu bisa menyala kembali,&#8221; kata Andrean, yang kini duduk di kelas I SMP Slamet Riyadi, Cijantung, Jakarta Timur.</p>
<p>Dengan daya kelebihannya itu, oleh orangtuanya, Andrean difoto aura. Dan, hasilnya berbeda dengan anak umumnya. Aura Andrean berwarna nila. Saat ia dites, IQ-nya di atas 120. Itulah beberapa pertanda bahwa si empunya nama masuk dalam kategori anak indigo.<br />
Andrean adalah bungsu dari tiga bersaudara pasangan Ganie Hendranata, 64 tahun, dan Lianny Hendranata, 45 tahun. Sehari-hari Hendranata bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan. Rupanya, tak hanya Andrean yang indigo. Kedua kakaknya, Imelda, 21 tahun, dan Raymond, 17 tahun, juga sama. Begitu pula Lianny.</p>
<p>Satu keluarga yang terdiri lima orang, empat di antaranya indigo, tentu seru. Mereka bisa bertelepati satu dengan lain. Suatu hari, misalnya, Imelda ingin memiliki sarung tangan warna merah. Tapi harganya mahal. Sang ibu menyarankan agar si sulung mencari sarung tangan yang murah saja. Rupanya, setelah mencari sekian lama, si anak tak berhasil menemukan sarung tangan merah berharga murah.</p>
<p>Tak berhasil bukan berarti memupuskan harapan. Imelda terus berjuang dengan caranya sendiri. Yaitu menciptakan keinginannya melalui otak: &#8220;Aku mau sarung tangan warna merah. Nggak tahu gimana caranya; aku harus punya sarung tangan warna merah.&#8221;</p>
<p>Beberapa hari kemudian, Raymond yang pulang dari Yogyakarta membawa oleh-oleh berupa sarung tangan warna merah buat kakaknya. &#8220;Masak, setiap aku masuk toko, kuping selalu berdengung; ada yang minta sarung tangan merah,&#8221; kata Lianny, yang juga terimbas telepati anaknya itu.</p>
<p>Anak-anak berkemampuan indra keenam tentu bukan hal baru. Simak saja film layar lebar bertitel The Sixth Sense, yang beredar tahun 1999. Film ini bercerita tentang anak punya daya linuwih yang diperankan Haley Joel Osment, dan psikolog anak Bruce Willis. Di layar TV juga ada film seri The X-Files (pemeran utamanya Gillian Anderson dan David Duchovny) dan The Profiler (Ally Walker sebagai pemeran utama). Baik film layar lebar maupun film seri televisi itu sangat diminati penonton.</p>
<p>Adapun istilah indigo berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi warna biru dengan ungu. Warna-warna tersebut diidentifikasi lewat cakra di tubuh. &#8220;Letak indigo ada di kening, persisnya antara cakra leher yang berwarna biru dengan cakra puncak kepala yang berwarna ungu,&#8221; kata Dr. Tb. Erwin Kusuma, SpKJ, psikiater anak dengan pendalaman di bidang kesehatan mental spiritual, kepada GATRA.</p>
<p>Prinsipnya, cakra memiliki spektrum warna mulai merah sampai ungu; seperti spektrum warna pelangi. Cakra leher (ada yang menyebut cakra tenggorokan) yang berwarna biru adalah wilayah yang tertandai berdasarkan penggunaan penalaran dengan optimalisasi fungsi otak. &#8220;Indigo berada di atasnya, bersifat spiritual,&#8221; ujar Erwin yang juga indigo.</p>
<p>Dengan asumsi tersebut, menurut Erwin, anak indigo bisa ditandai cerdas dan kreatif, karena dia sudah melalui cakra leher yang berwarna biru. Dalam kondisi sudah melewati biru, maka dia masuk dalam kategori indigo, baik secara mental maupun spiritual. Bila difoto aura, seakan-akan tampak memakai serban dengan warna biru. &#8220;Hanya saja, saat ia lahir, jasmaninya kecil, tidak sematang mental dan spiritualnya,&#8221; Erwin menambahkan.</p>
<p>Ciri-ciri lain yang mudah dikenali adalah punya kemampuan spiritual tinggi. Anak indigo kebanyakan bisa melihat sesuatu yang belum terjadi atau masa lalu. Bisa pula melihat makhluk atau materi-materi halus yang tidak tertangkap oleh indra penglihatan biasa. &#8220;Kemampuan spiritual semacam itu masuk dalam wilayah ESP (extra-sensory perception) alias indra keenam,&#8221; papar Erwin.</p>
<p>Kemampuan ESP, menurut Erwin, bisa menjelajah ruang dan waktu. Ketika tubuh anak indigo berada di suatu tempat, pada saat bersamaan ia tahu apa yang terjadi di lokasi lain. Itulah yang disebut kemampuan menjelajah ruang. &#8220;Ketika dia berbicara sekarang, tentang suatu peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, ini yang disebut menjelajah waktu,&#8221; katanya.</p>
<p>Anak indigo biasanya banyak bertanya, dan orangtuanya akan kewalahan menjawab. Umpamanya, kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Dia akan merasa heran untuk beberapa hal, yang dirasa tak masuk akal. &#8220;Kenapa harus sekolah berjam-jam?&#8221; Erwin mencontohkan pertanyaan seorang anak indigo kepada ibunya.</p>
<p>Jika orangtua tak mengerti bahwa anaknya indigo, umumnya si anak cenderung memberontak, agresif, dan nakal. Tak sedikit yang kemudian bentrok dengan kehendak orangtuanya. &#8220;Jika orangtua masih otoriter membatasi aktivitas spiritual anak indigo, si anak pasti akan berontak,&#8221; lanjut Erwin. Karena itu, para orangtua mesti menjawab impresi-impresi yang dikemukakan si anak.</p>
<p>Tak hanya psikiater seperti Dr. Erwin yang menangani anak-anak indigo. Spiritualis Leo Lumanto, yang mengasuh acara &#8220;Percaya Nggak Percaya&#8221; di Antv, sudah enam tahun ini berinteraksi dengan bocah indigo. Saat ini, dia membimbing tiga anak indigo. Bimbingannya tidak berbentuk terapi khusus. Bocah itu hanya sering diajak berdialog saat mengikuti orangtuanya dalam acara pengajian di kediaman Leo, di kawasan Bintaro, Sektor IX, Tangerang, Banten.</p>
<p>Orangtua mereka berkonsultasi ke Leo, umumnya setelah melalui perjalanan panjang dari psikiater sampai ke paranormal. Sikap anak indigo yang terbilang unik menyebabkan orangtua mereka kerap menyangka anak-anak ini hiperaktif sehingga perlu dibawa ke psikiater. Ada juga yang beranggapan anaknya jadi &#8220;aneh&#8221; karena gangguan dari alam lain. &#8220;Dianggap ada yang nempel,&#8221; kata Leo.</p>
<p>Berhubung sudah dipersepsikan seperti itu, si anak biasanya dibawa ke paranormal untuk &#8220;dibereskan&#8221; dari urusan dengan dunia lain yang diakrabinya. Dalam pandangan Leo, anak indigo bukanlah bocah yang ketempelan jin atau sejenisnya. &#8220;Ini merupakan kehendak Allah yang tidak bisa kita sangkal,&#8221; Leo menyimpulkan.</p>
<p>Selain ciri-ciri yang ditunjukkan Dr. Erwin, menurut Leo, ciri lain anak indigo adalah suka menyendiri. Begitu berada pada suatu situasi atau lingkungan baru, anak indigo akan mencermati keadaan sekelilingnya dengan sangat teliti. Kemampuan mereka mengenal suasana dan individu luar biasa. &#8220;Walaupun terkadang mereka terlihat acuh tak acuh, sebenarnya di balik itu mereka paham apa yang sedang terjadi,&#8221; papar Leo. &#8220;Kepekaan spiritual pada anak indigo benar-benar merupakan hidayah dari Allah,&#8221; Leo menegaskan.</p>
<p>Psikolog dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Dra. Sawitri Supardi Sadardjoen, menyarankan kepada para orangtua untuk &#8220;menormalkan&#8221; anak-anak berdaya linuwih ini. Sawitri justru menyarankan untuk &#8220;menumpulkan&#8221; kemampuan si anak. Caranya? &#8220;Dengan memberi pengertian bahwa apa yang diketahui si anak itu semata-mata faktor kebetulan,&#8221; katanya.</p>
<p>Selain karena khawatir si anak tersiksa dengan kelebihan yang dimiliki, Sawitri beralasan bahwa kemampuan itu akan membuat anak menjadi tidak realistis dan malas. &#8220;Kalau mereka konsentrasi dengan memusatkan energi, mereka bisa membayangkan soal-soal yang akan keluar dalam ujian. Ini bisa membuat mereka jadi malas belajar,&#8221; tutur Sawitri.</p>
<p>Lain lagi pendapat Prof. Dr. dr. H. Soewardi, MPH, SpKJ. Spesialis penyakit jiwa di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta, ini mewanti-wanti bahwa anak-anak indigo mesti disikapi secara hati-hati, terutama oleh lingkungan sosial dan keluarganya. &#8220;Sebenarnya gejala tersebut adalah gejala ketidakwajaran,&#8221; kata Soewardi kepada Puguh Windrawan dari GATRA.</p>
<p>&#8220;Keajaiban&#8221; anak indigo itu terjadi, menurut Soewardi, karena ada kesalahan dalam kinerja otaknya. &#8220;Lebih tepat dikatakan bahwa sistem kerja otaknya terganggu,&#8221; ujarnya. Hal inilah yang menimbulkan ketidakwajaran. &#8220;Dalam sistem limbik otak, terutama neurotransmiternya, terganggu. Ini yang harus diupayakan kesembuhannya,&#8221; Soewardi menambahkan.</p>
<p>Oleh sebab itu, masih kata Soewardi, anak indigo jangan terlalu diistimewakan. Ia menyarankan agar mereka diperlakukan secara wajar supaya perkembangan jiwanya tidak terganggu. Perlakuan itu, menurut Soewardi, juga bisa mempercepat kinerja otak anak indigo agar berfungsi seperti sedia kala. &#8220;Anak indigo itu tidak normal alias sakit,&#8221; katanya.</p>
<p>Untuk kesembuhannya, antara lain, dilakukan melalui terapi, termasuk terapi religius. &#8220;Terapi melalui agama juga bisa dilakukan,&#8221; kata Soewardi. &#8220;Jangan disembuhkan melalui cara-cara pengobatan yang aneh-aneh atau di luar medis,&#8221; Soewardi mengingatkan.</p>
<p>Pandangan Soewardi itu berbeda dengan Erwin yang menilai anak indigo adalah anugerah Ilahi. Dalam pandangan Erwin, anak-anak indigo pada dasarnya seumur hidup akan indigo terus. Di usia anak-anak, mereka kerap &#8220;berontak&#8221;. Tapi ketika dewasa, karena sudah bisa menyesuaikan diri, sikap pemberontakannya berkurang. Artinya, &#8220;pendampingan&#8221; terhadap anak indigo sangat diutamakan, agar mereka bisa tumbuh secara wajar.</p>
<p>Namun, terlepas dari beda pandang dalam menyikapi, dari pengalaman yang ada, anak indigo pada dasarnya punya cita-cita berbuat baik dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Modalnya sudah di tangan: punya indra keenam, IQ-nya di atas rata-rata, dan bijaksana. Tinggal memolesnya saja. Dan, itulah yang kini tengah getol dilakukan di Barat. Sekolah untuk anak indigo sudah banyak bertebaran.</p>
<p>Di Indonesia? Itulah yang tengah dipikirkan oleh mereka yang sangat peduli pada indigo, termasuk Dr. Erwin. Jumlah anak indigo di Indonesia mungkin belum mencapai ratusan. Tapi dari yang sedikit itu, jika mendapat bimbingan yang sempurna, diharapkan mereka kelak menjadi pemimpin masa depan yang arif bijaksana, humanis, dan cinta damai. Siapa tahu!</p>
<p>Berbeda, tetapi Bukan Anak &#8220;Aneh&#8221;</p>
<p>SEPANJANG perjalanan menuju rumah nenek, Ardi, sebut saja begitu, seperti tidak bergerak. Wajahnya pucat pasi. Ia terus menutupi telinganya. Sang ibu tak berani mengusik anak sulungnya.</p>
<p>&#8220;Saya sebenarnya heran, kok Ardi nangisnya sampai begitu waktu mendengar kabar ibu saya meninggal. Enggak seperti anak kecil lain yang kehilangan neneknya. Sedih ya sedih, tapi enggak gitu-gitu amat,&#8221; ujar Dewi.</p>
<p>BEGITU turun dari mobil, Ardi seperti terkesima melihat sesuatu di pintu masuk. Ketika mencium jenazah neneknya, tiba-tiba ia kembali menutupi telinganya dan tampak ketakutan. Pandangannya terus menuju ke luar pintu. Setelah itu Ardi mengatakan kepalanya sakit, dan tidak ikut ke makam.</p>
<p>Menjelang tengah malam, Ardi menanyakan apakah ibunya mendengar suara petir siang tadi. Sang ibu menjawab, &#8220;Tidak.&#8221; &#8220;Masak Mama enggak dengar, kan keras sekali dan terus- terusan, Ma,&#8221; kata Dewi menirukan ucapan Ardi saat itu. &#8220;Sehabis itu Ardi menceritakan semuanya,&#8221; lanjut Dewi. Selain petir, Ardi melihat burung besar di pintu rumah sang nenek. &#8220;Burung itu enggak pergi-pergi,&#8221; ujar Ardi seperti ditirukan Dewi.</p>
<p>Saat mencium neneknya, Ardi melihat sang nenek berjalan menuju sebuah gerbang. Saat itu Ardi mendengar suara petir lagi, yang lebih keras dari sebelumnya, dan ia menyaksikan neneknya melangkah melewati gerbang, terus berjalan menuju tempat yang ia katakan &#8220;indah sekali&#8221;.</p>
<p>Peristiwa itu bukan yang pertama, sehingga Dewi dan suaminya tidak lagi terkejut mendengar penuturan anak mereka. &#8220;Dia sering melihat macam- macam, tetapi biasanya diam. Ia hanya mau berbicara sesudahnya, pelan-pelan dan hanya kepada orang tertentu,&#8221; sambung Dewi.</p>
<p>Usia Ardi kini menjelang 10 tahun. Di sekolah ia termasuk cerdas. IQ-nya antara 125-130. &#8220;Tapi gurunya bilang ia suka bengong di kelas,&#8221; sambung Dewi. Kepada ibunya, ia bercerita melihat macam-macam di sekolah, yang tidak bisa dilihat orang lain, di antaranya anak tanpa anggota badan, dan ia merasa sangat kasihan.</p>
<p>Suatu hari saat belajar di rumah ia tersenyum. Ketika ditanya oleh sang ibu, ia mengatakan ada anak persis sekali dengan dirinya. Hari berikutnya ia bercerita, anak itu datang di sekolahnya. Ketika ditanya di mana ia tinggal, anak itu menjawab, &#8220;Di sana,&#8221; sambil telunjuknya menunjuk ke arah atas. &#8220;Ada apa di sana?&#8221; tanya Ardi. Anak itu menjawab, &#8220;Ada orang gede- gede buanget. Anak itu omongnya juga medhok lho Ma, kayak aku, persis,&#8221; tutur Ardi seperti diceritakan kembali oleh Dewi. Tentu tak ada orang lain melihat &#8220;anak itu&#8221; kecuali Ardi.</p>
<p>Dewi dan suaminya memahami apa yang terjadi pada Ardi dan juga adiknya. Beberapa anggota keluarganya juga memiliki kepekaan lebih dibandingkan dengan orang kebanyakan. Pada Ardi hal itu sudah terdeteksi saat masih bayi. &#8220;Kalau dengar suara azan, Ardi tampak mendengarkan dengan penuh konsentrasi,&#8221; kenang Dewi. Menjelang usia 1,5 tahun, Ardi membaca kalimat syahadat secara sambung-menyambung seperti wirid. Sesudah bisa jalan, sebelum usia dua tahun, ia mulai mengambil sajadah sendiri, memakai sarung sendiri dan membuat gerakan seperti orang shalat, meskipun bukan waktu shalat.</p>
<p>Toh tingkah laku Ardi membuat Dewi merasa agak risau. &#8220;Ia melihat dan mendengar apa saja yang orang lain enggak bisa lihat dan enggak bisa dengar,&#8221; katanya. Ia tidak menceritakan situasi anaknya itu pada setiap orang di luar keluarga. &#8220;Kalau enggak percaya bisa-bisa anak itu dianggap berkhayal,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Dewi tidak mengecap anaknya berkhayal, karena dalam beberapa hal ia juga memiliki kepekaan itu, meski hanya sampai tingkat tertentu. &#8220;Suatu sore, sehabis shalat, saya merasa ada bayangan putih. Ardi rupanya juga melihat karena ia tersenyum. Dia bilang, &#8216;Ma, ada yang ngikutin, perempuan. Tapi orangnya baik sekali.&#8217; Ketika saya tanya siapa, Ardi tidak menjawab.&#8221;</p>
<p>Suatu hari, Dewi membaca majalah yang menulis tentang tanda-tanda anak indigo. &#8220;Lha saya pikir kok persis sekali sama anak saya. Lalu saya berusaha menemui dr Erwin di Klinik Prorevital.&#8221;</p>
<p>ANAK-ANAK dengan kemampuan seperti Ardi bukan hal yang baru di dunia, tetapi fenomenanya semakin jelas 20 tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan kemampuan anak dan manusia dewasa dengan kemampuan semacam itu, di antaranya The Sixth Sense, dan film-film seri seperti The X Files.</p>
<p>Menurut dr Tubagus Erwin Kusuma SpKj, psikiater yang menaruh perhatian pada masalah spiritualitas, anak-anak seperti itu semakin muncul di mana-mana di dunia, melewati batas budaya, agama, suku, etnis, kelompok, dan batas apa pun yang dibuat manusia untuk alasan-alasan tertentu.</p>
<p>Fenomena itu menarik perhatian banyak pihak, karena dalam paradigma psikologi manusia, anak-anak itu dianggap &#8220;aneh&#8221;. Pandangan ini muncul karena selama ini kemanusiaan telanjur dianggap sebagai hal yang statis, tak pernah berubah. &#8220;Padahal, semua ciptaan Tuhan selalu berubah,&#8221; ujar dr Erwin.</p>
<p>Sebagai hukum, masyarakat cenderung memahami evolusi tapi hanya untuk yang berkaitan dengan masa lalu. &#8220;Fenomena munculnya anak-anak dengan kemampuan seperti itu merupakan bagian dari evolusi kesadaran baru manusia, yang secara perlahan muncul di bumi, terutama sejak awal milenium spiritual sekitar tahun 2000 yang disebut Masa Baru, The New Age, atau The Aquarian Age. Semua ini merupakan wujud kebesaran Allah,&#8221; tegas Erwin.</p>
<p>Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya, tetapi batinnya tua (old soul) sehingga tak jarang memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua. Sering kali ia tak mau diperlakukan seperti anak kecil dan tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang ada. Kebanyakan anak indigo juga memiliki indra keenam yang lebih kuat dibanding orang biasa. Kecerdasannya di atas rata-rata.</p>
<p>Istilah &#8220;indigo&#8221; berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Istilah &#8220;anak indigo&#8221; atau indigo children juga merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.</p>
<p>Pada pertengahan tahun 1970-an Nancy meneliti warna aura manusia dan memetakan artinya untuk menandai kepribadiannya. Tahun 1982 ia menulis buku Understanding Your Life Through Color. Penelitian lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar perangai manusia melalui warna aura mendapat dukungan psikiater Dr McGreggor di San Diego University.</p>
<p>Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna nila yang muncul kuat pada hampir 80 persen aura anak-anak yang lahir setelah tahun 1980. Warna itu menempati urutan keenam pada spektrum warna pelangi maupun pada deretan vertikal cakra, dalam bahasa Sansekerta disebut cakra ajna, yang terletak di dahi, di antara dua alis mata.</p>
<p>&#8220;Itulah mata ketiga,&#8221; ujar dr Erwin. The third eye itu, menurut dia, berkaitan dengan hormon hipofisis (pituary body) dan hormon epificis (pineal body) di otak. Dalam peta klasifikasi yang dibuat Nancy, manusia dengan aura dominan nila dikategorikan sebagai manusia dengan intuisi dan imajinasi sangat kuat.</p>
<p>&#8220;Letak indigo ada di sini,&#8221; jelas Tommy Suhalim sambil menjalankan perangkat teknologi pembaca aura, aura video station (AVS). Alat yang protipenya dibuat oleh Johannes R Fisslinger dari Jerman tahun 1997 ini lebih canggih dibandingkan perangkat teknologi serupa yang ditemukan Seymon Kirlian tahun 1939, dan Aura Camera 6000 yang dibuat Guy Coggins tahun 1992 berdasarkan Kirlian Photography.</p>
<p>Tom menunjukkan titik berkedip berwarna nila tua, sangat jelas di antara kedua mata Vincent Liong (19). Murid kelas dua tingkat SLTA di Gandhi International School itu sudah menulis buku pada usia 14 tahun dan bukunya diterbitkan oleh penerbit terkemuka di Indonesia. Buku Berlindung di Bawah Payung itu merupakan refleksi, berdasarkan kejadian sehari- hari yang sangat sederhana.</p>
<p>Pergulatan pemikiran yang muncul dalam tulisan-tulisannya kemudian seperti datang dari pemikiran orang bijak, dan menjadi bahan pembicaraan. Pemilihan angle-nya tidak biasa, dan hampir tidak terpikir bahkan oleh orang dewasa yang menekuni bidang itu. Belakangan ia banyak menulis soal spiritual, namun tetap dilihat dalam konteks ilmiah dan rasional.</p>
<p>Mungkin karena minatnya yang sangat besar pada dunia tulis-menulis, Vincent tidak terlalu berminat dengan beberapa mata pelajaran di sekolahnya. Orangtuanya yang tergolong demokratis pun sering tidak mengerti apa yang diingini anaknya yang ber-IQ antara 125-130 ini. &#8220;Dia keras kepala. Kemarin ia tidak mau ikut ujian matematika,&#8221; sambung Liong, ayahnya.</p>
<p>Vincent mengaku &#8220;takut&#8221; pada matematika sejak kecil, tapi mengaku disiplin pada aturan mainnya sendiri. &#8220;Sejak kecil aku bingung pada dogma satu tambah satu sama dengan dua. Aku juga bingung dengan ilmu ekonomi karena dalam realitas sosial berbeda,&#8221; tegas Vincent.</p>
<p>Toh sang ibu sudah menengarai keistimewaan anaknya sejak bayi. Waktu SD, Vincent biasa bergaul dengan gurunya, dan orang-orang setua gurunya. Pertanyaannya banyak dan sangat kritis. &#8220;Saya langganan dipanggil guru bukan hanya karena anak itu sulit. tetapi juga karena karangan-karangannya membuat guru-gurunya kagum,&#8221; ujar Ny Ina.</p>
<p>Vincent sudah menulis tentang teleskop berdasarkan pengamatan dan referensi pada usia SD. &#8220;Di rumah ia membawa ensiklopedi yang besar- besar itu ke kamarnya,&#8221; ujar Ny Ina. &#8220;Kamarnya kayak kapal pecah. Tidurnya dini hari karena menulis,&#8221; sambung Liong. &#8220;Saya sering meminta agar ia menyelesaikan pendidikan formalnya dulu, karena bagaimanapun itu sangat penting,&#8221; lanjut Liong.</p>
<p>&#8220;PENDIDIKAN formal sangat penting karena anak-anak indigo harus membumikan ’ilmu langitnya’ untuk kebaikan manusia. Bukan sebaliknya,&#8221; ujar Rosini (40). Ia menganjurkan, agar anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda itu tidak dieksploitasi oleh orangtua dan lingkungannya untuk mencari nomor togel atau menjadi dukun atau klenik. &#8220;Bukan itu misi anak-anak indigo,&#8221; tegas Rosi.</p>
<p>Anak-anak itu sebenarnya punya mekanisme pertahanannya sendiri. Annisa, misalnya. Gadis kecil berusia 4,5 tahun ini tiba-tiba berbicara dalam bahasa Inggris beraksen Amerika begitu ia bisa bicara pada usia 2,5 tahun. Padahal orangtuanya tidak berbahasa Inggris dengan baik. Meski tampak menggemaskan, dalam banyak hal ia berbicara dan bersikap seperti orang dewasa, bahkan menyebut dirinya &#8220;orang Amerika&#8221; karena &#8220;datang dari Amerika&#8221;. Nisa menyebut ibunya, Yenny bukan dengan panggilan mama.</p>
<p>Kemampuan melihat dan mendengar Nisa sangat tajam pada pukul 23.00 sampai dini hari. Tetapi kalau secara sengaja diminta memperlihatkan kemampuannya, ia akan menolak dengan tidak memperlihatkan kemampuan itu sehingga ia tampak seperti anak-anak lainnya,&#8221; ujar Yenny. Kata sang ibu, Nisa tidak mudah bersalaman dengan orang. Ia seperti tahu orang yang suka pergi ke dukun atau memakai jimat. Namun sebagai anak-anak Nisa juga suka menyanyi dan bermain.</p>
<p>Jenis dan kemampuan anak indigo bermacam-macam. Meski memiliki kepekaan yang kuat, kepekaan mendengar dan melihat sesuatu yang tidak didengar dan dilihat orang kebanyakan, berbeda-beda gradasinya.</p>
<p>Menurut Lanny Kuswandi, fasilitator program relaksasi di Klinik Prorevital, mengutip dr Erwin, &#8220;Ada tipe humanis, tipe konseptual, tipe artis, dan tipe interdimensional. Pendekatan terhadap mereka juga berbeda-beda,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Namun karena dianggap &#8220;aneh&#8221;, tak jarang diagnosisnya keliru dan penanganannya lebih bersandar pada obat-obatan. &#8220;Ada anak indigo yang dianggap autis, ADHD (Attention-Deficit Hyperatictve Disorder) maupun ADD (Attention Deficit Disorder). Padahal tanda-tandanya berbeda,&#8221; sambung Erwin. Kekeliruan semacam ini juga terjadi di AS, karena banyak ahli menganggap anak-anak itu menderita &#8220;gangguan&#8221; yang harus dihilangkan.</p>
<p>&#8220;Saya beberapa kali pergi ke psikolog dan psikiater,&#8221; ujar Rosini. Profesional di suatu perusahaan swasta terkemuka itu suatu saat dalam hidupnya merasa sangat terganggu oleh suara-suara itu. Orangtuanya juga merasa anaknya &#8220;aneh&#8221; karena kerap memberi tahu peristiwa yang akan terjadi, tetapi menolak mengakui kemampuan anak itu.</p>
<p>&#8220;Dalam tes yang dibuat oleh mereka, saya dinyatakan sehat. Tidak ada gangguan apa pun,&#8221; sambung Rosini. Sebaliknya, ia melihat psikolog dan psikiater yang melakukan tes terhadap dirinyalah yang bermasalah. Ia juga pernah mencoba mencari paranormal untuk membuang kemampuannya itu, meski suara-suara itu mengatakan &#8220;jangan&#8221;.</p>
<p>Akhirnya Rosi berdamai dengan dirinya dan mengembalikan kemampuannya sebagai wujud kebesaran Allah SWT, dengan berusaha untuk terus mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Karena itu ia ingin membantu orangtua dengan anak-anak indigo agar anak- anak itu tidak melewati masa pencarian yang rumit seperti dirinya.</p>
<p>Indigo children, menurut Erwin, bukan fenomena terakhir, karena akan lahir anak-anak yang disebut sebagai crystal children. &#8220;Anak-anak dengan warna dasar aura, bening dan lengkap. Mereka lahir dari orangtua yang spiritual.&#8221;</p>
<p>Mungkin Cita (9) termasuk anak itu. Keluarganya, sampai nenek-neneknya, spiritualis. Ia bisa melihat sinar dan malaikat di rumah ibadah, khususnya ketika orang-orang sedang berdoa. Ini hanya salah satu kemampuan &#8220;melihat&#8221; milik anak yang selalu mendapat rangking di sekolah itu. Cita tahu kapan hujan akan turun hari itu dan sebaliknya, meskipun mendung sudah menggantung.</p>
<p>&#8220;Ia menjadi teman dan penasihat kami, bapak-ibunya. Di sekolah, di keluarga besar kami, terasa ia menebarkan aura kedamaian dan kebahagiaan. Anak itu sangat tenang dan pemaaf,&#8221; ujar ibunya, Ny Dita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/kisah-kisah-anak-indigo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>FENOMENA ANAK INDIGO</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/fenomena-anak-indigo/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/fenomena-anak-indigo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:43:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/fenomena-anak-indigo/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak anak-anak istimewa lahir di milenium baru ini dengan berbagai kelebihan supranatural. Mereka kebanyakan mempunyai kepekaan indera keenam, melebihi anak seusianya. Anak indigo, demikian mereka biasa disebut, ternyata mempunyai misi khusus di dunia ini. Apakah anak indigo itu dan misi yang mereka emban ?
Beberapa waktu yang lalu, beberapa media massa ibu kota mengulas habis seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak anak-anak istimewa lahir di milenium baru ini dengan berbagai kelebihan supranatural. Mereka kebanyakan mempunyai kepekaan indera keenam, melebihi anak seusianya. Anak indigo, demikian mereka biasa disebut, ternyata mempunyai misi khusus di dunia ini. Apakah anak indigo itu dan misi yang mereka emban ?</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, beberapa media massa ibu kota mengulas habis seorang anak &#8220;sakti&#8221;. Gadis cilik bernama Annisa itu sangat mengagumkan dalam menunjukkan kelebihan olah bathinnya. Bocah berusia 5 tahun tersebut begitu luar biasa menguasai bahasa asing seperti Inggris, Arab, atau Belanda. Padahal secara informal orang tuanya tidak pernah mengajarkan bahasa-bahasa tersebut. Bahkan kecerdasan anak ini di atas rata-rata anak seusianya. Akibat kelebihan yang satu ini, membuat Annisa tidak bisa sekolah secara formal seperti kebanyakan anak. Kecerdasannya yang melebihi teman sekelasnya, membuat dia tidak betah belajar di kelas.</p>
<p>Secara spiritual, Annisa juga mempunyai kelebihan. Dia sanggup menyembuhkan berbagai penyakit. Setiap hari ada saja orang datang untuk minta pertolongan. Jangan heran jika kemudian dia menjadi instruktur sebuah klub meditasi. Malam-malam si kecil ini juga selalu dilewatkan dengan ritual meditasi. Rata-rata Annisa baru tidur pukul 02.00 dini hari, setelah meditasi yang panjang. Dengan olah bathinnya tersebut, Annisa mampu mendeteksi hawa jahat di udara. Di mana ada hantu atau kekuatan jahat lainnya, Annisa sanggup melihatnya.</p>
<p><strong>TAHAPAN ZAMAN</strong></p>
<p>Annisa hanya satu contoh saja. Ada banyak anak-anak demikian yang saat ini telah terlahir. Anak-anak dengan kemampuan seperti Annisa bukan hal yang baru di dunia tetapi fenomenanya semakin jelas 20 tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan kemampuan anak dan manusia dewasa dengan kemampuan semacam itu, diantaranya &#8220;The Sixth Sense&#8221; dan film-film seri seperti &#8220;The X – Files&#8221;. Bahkan menurut dr. Tubagus Erwin Kusuma Sp KJ dari klinik Prorevital, fenomena anak dengan kepekaan indera keenam sangat wajar saat ini. Ada satu istilah<br />
untuk menyebut anak-anak ini yaitu anak indigo (indigo children).</p>
<p>Mengawali penjelasannya, dr. Erwin menerangkan, nama indigo diambil dari bahasa Spanyol. Indigo adalah warna keenam dari warna pelangi, campuran biru dan merah tua. Lantas mengapa dinamakan anak indigo ? &#8220;Penamaan berdasarkan warna ini diurutkan sesuai dengan perkembangan manusia. Seperti spektrum warna pelangi, perkembangan manusia juga ditandai dengan satu oktaf warna. Dimulai dari masa merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu, indigo (nila) dan putih.&#8221; Urai dr. Erwin.</p>
<p>Warna-warna tersebut mewakili cakra-cakra yang terdapat dalam tubuh eterik manusia. Cakra ini semacam corong energi yang letaknya di seluruh bagian tubuh, dari tubuh bagian bawah sampai kepala. Cakra berwarna merah berada paling bawah dan cakra berwarna putih di bagian paling atas atau ubun ubun kepala. Cakra ini berfungsi untuk menyerap energi dari luar atau memancarkan energi dari dalam tubuh.</p>
<p>Pada awal perkembangan manusia, cakra yang paling aktif adalah cakra berwarna merah. Pada jaman cakra merah manusia sangat aktif, manusia masih hidup nomaden di gua-gua, makan dari daging binatang buruannya tanpa dimasak dan sebagainya. Kebutuhan dasar manusia pada jaman tersebut hanya seputar survival saja. Manusia masih hidup mengandalkan insting dasar mereka. Pada masa inilah awal diketemukannya api.</p>
<p>Perkembangan selanjutnya cakra tubuh manusia mulai aktif di sekitar cakra berwarna kuning. Cakra ini terletak di bagian perut. Manusia mulai menyadari arti penting dari movement. Kadang mereka harus bergerak dari kampung suku yang lama membuat kampung suku yang baru. Dalam kebutuhan bergerak ini kadang mereka harus membawa barang yang tidak sedikit. Jaman-jaman mereka melakukan eksodus disebut jaman kuning. Dalam jaman ini perkembangan teknologi sederhana seperti roda mulai ditemukan, namun kecerdasan manusia belum mengalami kemajuan berarti.</p>
<p>Lepas dari jaman kuning, manusia mulai memasuki masa biru. Cakra berwarna biru yang terletak di tubuh bagian atas (antara leher dan dada) lebih dominan. Manusia yang lahir pada jaman biru mempunyai kelebihan pemikiran. Orang sudah mulai menggunakan nalarnya. Pada masa biru, ilmu dan teknologi berkembang luar biasa. Bahkan boleh dibilang jaman ini adalah jaman revolusi teknologi. Mesin-mesin mulai bermunculan. Bola lampu, listrik atau penemuan besar yang menjadi awal peradaban modern dunia dimulai pada masa biru. Masa ini juga ditandai dengan lahirnya para ilmuwan semacam Einstein, Thomas Alfa Edison, James Watt, dsbnya.</p>
<p>Lepas jaman teknologi atau masa biru, manusia mulai memasuki jaman spiritual. Jika sebelumnya manusia hanya berkutat seputar fisik dan otak, kini manusia mulai masuk jaman yang menuntut sesuatu yang abstrak. Spiritual manusia mulai diasah. Cakra manusia mulai bergeser ke atas, tepatnya di dahi. Di sinilah terletak cakra keenam manusia yaitu cakra yang berwarna indigo. Warna indigo ini adalah percampuran warna biru dengan merah. &#8220;Di atas satu oktaf cakra manusia masih ada satu oktaf lagi. Di atas warna ungu, orang sering sebut ultra ungu.</p>
<p>Gabungan warna biru dengan merah dari oktaf warna atas inilah muncul warna nila atau indigo, &#8221; jelas dr. Erwin.</p>
<p><strong>ANAK-ANAK ISTIMEWA</strong></p>
<p>Sesuai dengan perkembangan manusia sejak awal penciptaan, kelahiran anak indigo memang sudah menjadi sebuah kepastian. Ketika memasuki tahun 2000 di kalender masehi, kita memasuki milenium baru. Namun dari sudut perkembangan manusia, tahun 2000 menjadi titik tolak memasuki new age, jaman baru. Jaman yang disebut jaman spiritual atau jaman indigo. Para psikolog yang mendalami fenomena anak-anak indigo seperti dr. erwin menyebut milenium ini sebagai milenium spiritual. Seperti halnya pada jaman biru yang ditandai dengan kelahiran anak-anak berotak cemerlang, milenium spiritual juga ditandai dengan kelahiran anak-anak yang mempunyai kelebihan spiritual. Anak-anak yang baru lahir ini mempunyai cakra dominan warna indigo. Sebutan anak indigo diberikan oleh Nancy Ann Tappe, seorang psikolog yang mendalami anak-anak demikian ini.</p>
<p>Karena cakra yang dominan pada bagian dahi, jika cakra tersebut divisualkan, seolah anak indigo mempunyai mata ketiga. Namun pada realitas spiritual, anak indigo memang mempunyai mata ketiga. Dengan mata ketiga atau mata spiritual ini, anak indigo sering kali disebut orang awam sebagai anak sakti. Mereka sanggup melihat masa lalu bahkan masa depan. Dengan kemampuannya, mereka dapat melihat mahluk atau barang yang tak kasat mata seperti ruh misalnya. Dalam istilah ilmiah mereka mempunyai ESP (Extra Sensory Perception), yang dalam bahasa sehari-hari kita sebut indera ke-enam.</p>
<p>Meski secara fisik anak indigo tidak berbeda dengan bocah-bocah lainnya, namun secara spiritual ruh mereka telah mengalami kematangan. Tidak heran jika mereka ini kedapatan sangat bijak. Kadang berbicara seperti orang tua dengan hikmat luar biasa. Menasehati orang yang lebih tua dengan kata-kata bijak yang tidak mungkin diucapkan oleh bocah seusianya. Bahkan orang tuanya sekalipun kalah bijak dengan anak indigo ini. Lalu kenapa ada anak terlahir dengan kematangan spiritual melebihi orang awam ? Semua bertolak dari proses reinkarnasi. Para psikolog yang mendalami masalah indigo percaya, proses reinkarnasi benar-benar ada. Anak-anak indigo ini adalah adalah ruh yang telah berkali-kali mengalami inkarnasi. Lewat<br />
proses inkarnasi yang berulang inilah ruh-ruh mereka belajar dan mengalami penuaan jiwa (old soul). Tidak heran jika kemudian anak-anak dengan old soul ini sanggup melihat masa lalunya sendiri atau kehidupan past life orang lain. Dr. Erwin mencontohkan, seorang anak indigo telah melihat masa lalunya sebagai orang Amerika yang dahulu meninggal karena pesawatnya jatuh.</p>
<p><strong>EVOLUSI SPIRITUAL</strong></p>
<p>Terlepas dari segala kelebihan anak – anak indigo, mereka diyakini datang ke planet ini dengan membawa misi. Seperti halnya para ilmuwan di jaman biru yang merobah dunia dengan teknologi, anak indigo akan merombak dunia dengan terlebih dahulu menata spiritual manusia. Seperti diketahui, dalam kehidupan beragama setiap umat mempunyai dimensi spiritual yang dirayakan dengan cara-cara yang disebut ritual. Ada kalanya ritual ini malah bertentangan dengan esensi / hakekat spiritual itu sendiri seperti cinta kasih, perdamaian, kejujuran, tolong menolong, dll. Kadang dalam ritual agama, ada pandangan yang menghalalkan darah dari kelompok lain, mengkafirkan orang lain, mengorbankan darah, berperang atas nama agama, dll. Di sinilah peran anak-anak indigo untuk membereskan semua ini. Tatanan yang tidak sesuai dengan esensi spiritual akan dirombak sampai akhirnya muncul masa kedamaian.</p>
<p>Sebelum masa milenium spiritual dimulai, sebenarnya sudah lahir anak-anak indigo. Namun jumlahnya tidak  sebanyak sekarang. Mereka saat ini berumur 30-an tahun dan sering disebut &#8220;van guard&#8221; (pendahulu). Layaknya sebuah pasukan, van guard ini menjadi intel. Mereka membaca keadaan dunia sebelum akhirnya lahir anak-anak indigo dalam jumlah yang banyak di berbagai belahan bumi. Anak-anak indigo ini menjadi pasukan &#8220;penyerang&#8221;. Dengan kematangan spiritual yang dimiliki, meerka merombak tatanan sosial yang rusak. Perilaku umat manusia<br />
yang mengabaikan sifat-sifat mulia Sang Pencipta perlahan-lahan akan dikikis habis. Pekerjaan anak indigo ini akan berakhir dengan munculnya kedamaian di seluruh bumi. Namun proses perkembangan jaman belum usai. Anak-anak indigo hanya mempersiapkan jalan bagi munculnya era berikutnya. Setelah keberhasilan &#8220;pasukan penyerang&#8221; ini, muncullah anak-anak kristal (Crystal Children).</p>
<p>Anak kristal menjadi semacam &#8220;pasukan pendudukan&#8221;. Mereka mempunyai kelebihan layaknya indigo children namun tidak mempunyai daya untuk melawan. Tugas mereka adalah menjaga perdamaian dan membangun segala sesuatu yang rusak akibat pertempuran anak indigo dengan tatanan dunia lama. Dalam usianya yang masih  aangat belia, anak kristal bijak laksana pandita. Tidak ada kata-kata kasar, makian, umpatan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mempunyai kemampuan membangun. Seperti van guard indigo, anak-anak kristal juga mempunyai van guardnya sendiri. Menurut dr. Erwin, seorang anak kristal telah terlahir di China dari seorang ibu yang terjangkit HIV/AIDS. Ajaibnya dalam usia 6 bulan, virus HIV yang menjangkiti anak kristal ini hilang dengan sendirinya.</p>
<p>Ada 4 tipe anak indigo dengan kelebihan masing-masing. Tipe pertama adalah tipe interdimensional yakni anak indigo yang memiliki ketajaman indera keenam. Ada pula tipe artis. Anak indigo dari tipe ini amat menonjol di bidang seni dan sastra. Lalu tipe humanis yang mempunyai kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya mereka menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain. Tipe terakhir adalah tipe konseptual. Mereka amat menonjol dalam merancang suatu program. Misalnya dalam rangka menyelamatkan perusahaan yang akan bangkrut atau membuat usaha baru yang booming dan mandatangkan keuntungan finansial bagi banyak orang.</p>
<p><strong>BISA DILATIH</strong></p>
<p>Tapi apakah kemampuan spiritual anak indigo bisa dipelajari ? Khusus untuk kemampuan indra keenam mereka, dr. Erwin memastikan bisa. Menurutnya manusia diciptakan dalam 3 bagian. Pertama diciptakan dalam bentuk ruh yang menjadi dasar kehidupan manusia. Lalu ruh ini dibuatkan solar body (tubuh matahari). Disebut tubuh matahari karena memang terbuat dari energi cahaya matahari. Tubuh matahari inilah yang sebut tubuh cahaya, tubuh eterik atau tubuh halus, karena tidak terlihat oleh mata biasa. Tubuh halus ini kemudian divisualkan<br />
dengan tubuh kasar manusia.</p>
<p>Dengan menggunakan kemampuan tubuh halus, manusia bisa memperoleh indera keenam. Dengan latihan khusus, anak biasa pun bisa memancarkan aura indigo. Disinilah kelebihan anak indigo. Mereka secara otomatis memancarkan aura indigo sejak lahir. Inti latihan kepekaan tubuh halus ini selalu bermuara pada relaksasi, mengistirahatkan tubuh kasar kita. Bisa dengan yoga, meditasi atau kegiatan sejenis. Dalam kegiatan ini sebenarnya kita berlatih untuk mengenal diri sendiri dan Sang Pencipta secara spiritual, tanpa terbelenggu oleh ritual tertentu. Namun anda jangan berharap kesaktian lebih dari latihan semacam ini karena kepekaan indera keenam seseorang tidak sama dengan orang lain. Ada yg peka sampai bisa melihat, mendengar, ada yg bisa meraba atau berkomunikasi melalui tulisan.</p>
<p>Pada anak kecil yang non indigo, sebenarnya mereka pun mempunyai kepekaan indera keenam. Namun kepekaan ini berkurang seiring dengan penggunaan otak kiri yang mulai intens, biasanya pada saat masuk sekolah. Sekolah-sekolah di Indonesia mengikuti pelajaran ala Barat. Dari awal masuk sekolah sudah diajari olahraga (otot) dan matematika (otak). Padahal sistem pendidikan kita dulu berbeda dengan mereka. Dahulu selain otot dan otak juga diajari kata-kata mutiara dan samadhi (relaksasi, mengistirahatkan otot dan otak). Tujuannya tetap menjaga kepekaan indera keenam. Itulah sebabnya kadang kala ada dukun yang memanfaatkan anak kecil untuk mendeteksi letak mahluk halus atau melihat perbuatan seseorang di masa lampau lewat ritual yang dilakukan si dukun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/fenomena-anak-indigo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Belajar &#38; Komunikasi Anak Indigo (wawancara)</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/sistem-belajar-komunikasi-anak-indigo-wawancara/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/sistem-belajar-komunikasi-anak-indigo-wawancara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/sistem-belajar-komunikasi-anak-indigo-wawancara/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Sistem Belajar &#38; Komunikasi Anak Indigo ?
Wawancara / Tanya Jawab mengenai tema tsb di atas bersama Liong Vincent Christian (Vincent Liong) dan Drs. Leonardo Rimba,MBA. .
Interview ini dibuat sebagai tugas matakuliah Psikologi Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), jurusan ilmu Komunikasi, semester kedua di Universitas Pelita Harapan (UPH), Lippo Karawaci, Tangerang.
Dikerjakan oleh: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagaimana Sistem Belajar &amp; Komunikasi Anak Indigo ?</strong></p>
<p>Wawancara / Tanya Jawab mengenai tema tsb di atas bersama Liong Vincent Christian (Vincent Liong) dan Drs. Leonardo Rimba,MBA. .</p>
<p>Interview ini dibuat sebagai tugas matakuliah Psikologi Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), jurusan ilmu Komunikasi, semester kedua di Universitas Pelita Harapan (UPH), Lippo Karawaci, Tangerang.</p>
<p>Dikerjakan oleh: Saraswita (NIM: 04120050041 / Hp: 0818810925 / email: saraswita99-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx ), dan rekan-rekannya (yang ber-NIM: 04120050020, 04120050014, 04120050021 &amp; 04120050036). Pada tanggal 25 Maret 2006 jam 13.00-15.00 WIB. Tempat wawancara di Café Upstairs, Plaza Senayan.</p>
<p>Download files, klik:<br />
<a href="http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/files/Bagaimana%20Sistem%20Belajar%20%26%20Komunikasi%20Anak%20Indigo.PDF">Bagaimana Sistem Belajar Komunikasi Anak Indigo.PDF</a><br />
<a href="http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/files/Bagaimana%20Sistem%20Belajar%20%26%20Komunikasi%20Anak%20Indigo.PDF">Bagaimana Sistem Belajar Komunikasi Anak Indigo.PDF</a></p>
<p><strong>Interview Transcript</strong></p>
<p>Kenapa anak indigo dikatakan membutuhkan bantuan pdhl mereka sudah mempunyai gifted abilities itu?</p>
<p>Leo : Yang mengatakan anak indigo membutuhkan bantuan kan para psikolog itu, sebab para psikolog itu keliatannya punya asumsi untuk mengedepankan diri sebagai mereka yang punya spesilaisasi untuk membantu anak2 indigo itu. Tapi ttg apakah anak indigo itu benar2 membutihkan bantuan atau tidak kan itu urusan lain. Apa benar perlu bantuan? Kalo perlu, perlu dibantu apanya? Wong normal2 aja kok.</p>
<p>Sebelumnya mungkin bisa dijelaskan apa itu indigo?</p>
<p>L : Indigo itu adalah, menurut pengertian umum ya, itu kan asalnya dari penelitian psikolog di Amerika katanya ada anak-anak yang lahir taun 80an, itu ternyata kalo di potret (foto aura) memiliki aura berwarna indigo. Indigo itu biru ungu. Warna indigo ini adalah warna cakra mata ketiga. Letaknya diantara mata. Nah, cakra mata ketiga itu adalah cakra yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa terlihat dengan mata fisik. Jadi pengertiannya anak indigo adalah anak-anak yang mempunyai kemampuan sejak lahir untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh manusia biasa.</p>
<p>Dimana bedanya dengan anak-anak / orang-orang yang gifted, alias bisa melihat hal-hal seperti itu, tapi auranya tidak indigo?</p>
<p>L : Well, saya tidak tau pasti karna saya ngga pernah ngecek warna aura. Tetapi memang ada orang dari generasi lain bisa melihat hal-hal lain tsb, tp mereka tidak dikategorikan anak indigo. Aku tidak dikategorikan sebagai anak indigo karna aku lahir bukan pada era 80an. Walaupun aku mungkin punya kemampuan yang dikatakan sama. Tapi secara definisi anak indigo adalah anak-anak yang lahir pada taun 80an. Jadi paling tua sekitar 20 tahun seperti Vincent, dan yang paling muda umur 5 tahun. Nah setelah itu kan era anak-anak kristal. Jadi itu masalah definisi aja.</p>
<p>Ciri-ciri khusus anak indigo itu apa?</p>
<p> <a href="http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/sistem-belajar-komunikasi-anak-indigo-wawancara/#more-4" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/sistem-belajar-komunikasi-anak-indigo-wawancara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Indigo Sebuah Kelainan Jiwa</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/apakah-indigo-sebuah-kelainan-jiwa/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/apakah-indigo-sebuah-kelainan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 09:58:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[annisa]]></category>

		<category><![CDATA[ario handyojati]]></category>

		<category><![CDATA[autisme]]></category>

		<category><![CDATA[indigo]]></category>

		<category><![CDATA[kick andy]]></category>

		<category><![CDATA[vincent liong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/apakah-indigo-sebuah-kelainan-jiwa/</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih indigo itu? Indigo adalah fenomena baru kehidupan manusia yang memiliki ketajaman indra keenam. Mereka menjadi perhatian serius karena jumlah mereka semakin hari semakin banyak.
Anak-anak indigo memang sering dianggap aneh. Mereka suka berbicara sendiri, dapat melihat masa lalu dan masa depan serta cenderung lebih matang dari usianya. Kecerdasan anak-anak indigo juga di atas rata-rata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa sih <strong>indigo</strong> itu? Indigo adalah fenomena baru kehidupan manusia yang memiliki ketajaman indra keenam. Mereka menjadi perhatian serius karena jumlah mereka semakin hari semakin banyak.</p>
<p>Anak-anak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indigo">indigo</a> memang sering dianggap aneh. Mereka suka berbicara sendiri, dapat melihat masa lalu dan masa depan serta cenderung lebih matang dari usianya. Kecerdasan anak-anak indigo juga di atas rata-rata dan mereka mampu melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah mereka pelajari sebelumnya. Karena sering bicara sendiri, banyak orangtua anak indigo menyangka anak mereka menyandang autisme atau hiperaktif.</p>
<p>”Tapi para orangtua tidak perlu takut. Dengan bimbingan yang tepat, anak indigo bisa hidup normal di masyarakat. Mereka muncul serentak menjelang tahun 2000,” ungkap dr Tb Erwin Kusuma, psikiater yang aktif meneliti anak-anak dengan kemampuan khusus ini dalam program Kick Andy di Metro TV.</p>
<p>Annisa Rania Putri misalnya. Bocah berusia lima tahun ini memiliki kemampuan lebih dari anak seusianya. Meski Annisa terlahir dan dibesarkan di Indonesia, dia mampu berbicara bahasa Inggris dengan dialek Amerika Serikat sejak mulai berbicara. Padahal, orangtuanya tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris cukup baik.</p>
<p>Selain kemampuannya berbahasa asing, dia mampu mengingat hal yang mustahil diingat manusia, seperti bagaimana dirinya dilahirkan. Annisa menganggap kemampuannya sebagai keajaiban dari Tuhan.</p>
<p>Ario Handyojati lain lagi. Anak indigo berusia 12 tahun ini mengaku sebelum lahir kembali, dia dulu adalah prajurit perang RRC. Karena itu, walau tidak pernah diajari, Jati mampu menulis aksara RRC kuno. Bahkan ketika neneknya akan meninggal, Jati sudah lebih dulu tahu.</p>
<p>Lain cerita tentang Vincent Liong. Mahasiswa fakultas psikologi sebuah universitas swasta ini sejak duduk di bangku kelas dua sekolah menengah umum, telah dikarunia kecerdasan filosofis yang tinggi. Vincent juga menulis artikel psikologi dan spiritual dalam sudut pandang tak biasa sejak sekolah dasar. Bukunya ini diluncurkan oleh penerbit terkemuka dan dikagumi banyak kalangan. Bahkan, tulisannya pernah dimuat di halaman pembuka buku dari sastrawan terkemuka Indonesia, Pramudya Ananta Toer. Dua karangan filosofis lainnya juga siap beredar. Namun ia tidak suka disebut anak indigo. “Kebetulan saja saya punya ciri-ciri indigo,” ujar Vincent yang tampil di Kick Andy.</p>
<p>Kini ia tengah serius menguraikan rumus yang diberi nama Dekon Kompatologi. Sebuah rumus yang mengurai elemen-elemen di dalam tubuh manusia untuk kemudian didekonstruksi. Gunanya? Antara lain untuk menyembuhkan penyakit dan membuat kualitas hidup lebih baik.</p>
<p>Sejarah Indigo<br />
Banyak istilah yang dipakai untuk menyebut fenomena anak indigo. Di Rusia, para ilmuwan menyebutnya sebagai spesies manusia baru. Dalam majalah Journal Trust Rusia pada 8 Desember 2005 lalu melaporkan, beberapa ilmuwan Rusia meyakini bahwa di atas bumi saat ini telah muncul suatu spesies &#8220;manusia baru&#8221; yang disebutnya sebagai &#8220;Bocah Biru&#8221;.</p>
<p>Menengok catatan dari sejumlah literatur, istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Istilah “anak indigo” atau indigo child juga merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.</p>
<p>Pada pertengahan tahun 1970-an Nancy meneliti warna aura manusia dan memetakan artinya untuk menandai kepribadiannya. Tahun 1982 ia menulis buku Understanding Your Life Through Color. Penelitian lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar perangai manusia melalui warna aura, mendapat dukungan psikiater Dr McGreggor di San Diego University.</p>
<p>Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna nila yang muncul kuat pada hampir 80 persen aura anak-anak yang lahir setelah 1980. Warna itu bisa dilihat dengan foto kirlian atau dengan alat generasi baru sejenis seperti video aura. Warna nila menempati urutan keenam pada spektrum warna pelangi maupun pada deretan vertikal cakra (dari bawah ke atas), dalam bahasa Sansekerta disebut Cakra Ajna, yang terletak di dahi, di antara dua mata.</p>
<p>Ciri Anak Indigo<br />
Menurut psikiater Tubagus Erwin Kusuma, fisik anak-anak indigo tak jauh berbeda dengan anak lainnya. Hanya batinnya saja yang condong lebih dewasa. Alhasil, anak-anak indigo sering memperlihatkan sifat orang dewasa, sangat cerdas, dan memiliki indra keenam yang sangat tajam.<br />
Virtue (dalam Carrol dan Tober, 1999) menyatakan bahwa anak indigo memiliki kecerdasan yang tinggi, namun dengan kreativitas yang terhambat. Berikut ciri-ciri anak berbakat yang indigo:</p>
<p>* lMemiliki sensitivitas tinggi<br />
* Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebih-lebihan<br />
* Mudah sekali bosan<br />
* Menentang otoritas bila tidak ber-orientasi demokratis<br />
* Memiliki gaya belajar tertentu<br />
* Mudah frustrasi karena banyak ide, namun kurang sumber yang dapat membimbingnya<br />
* Suka bereksplorasi<br />
* Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya<br />
* Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain<br />
* Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.</p>
<p>Menangani Anak-anak Indigo<br />
Orangtua anak indigo mau tidak mau sering bentrok dengan anak. Hal ini karena anak indigo pada umumnya tidak menginginkan diperlakukan sebagai anak-anak, di samping keterbatasan kemampuan dan pemahaman orangtua tentang anaknya. Ketidakmengertian orangtua membuat toleransi orangtua menjadi rendah dan ini malah memperburuk hubungan anak dengan orangtua.</p>
<p>Tips mengasuh anak berciri indigo:<br />
1. Hargai keunikan anak.<br />
2. Hindari kritikan negatif.<br />
3. Jangan pernah mengecilkan anak.<br />
4. Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan.<br />
5. Bantu anak untuk berdisiplin.<br />
6. Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun.<br />
7. Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor.<br />
8. Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggapnya mengada-ada.<br />
9. Jadikan diri sebagai mitra dalam membesarkan mereka.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan guru?<br />
1. Jadilah pendengar yang baik.<br />
2. Gunakan pernyataan positif.<br />
3. Sediakan waktu untuk berdiskusi dengan anak.<br />
4. Saling berbagi perasaan guru dan anak.<br />
5. Ciptakan suasa kekeluargaan dalam kelas dengan aturan kelas yang dibuat bersama.<br />
6. Menetapkan konsekuensi berdasarkan penyebab masalah.</p>
<p>Intinya, indigo bukanlah penyakit atau kelainan jiwa, meski ada yang menganggap fenomena indigo sebagai kelainan jiwa. Menurut Tubagus, ketidakpahaman menangani anak indigo akan berdampak penderitaan sang anak. Pernyataan Tubagus diamini Rosini, indigo dewasa sekaligus pembimbing anak-anak indigo. &#8220;Ketika di masa anak-anak pemahaman spiritual sudah matang tapi belum diikuti penalaran,&#8221; kata Rosini. Menurut dia, tugas kitalah sebagai orang dewasa untuk membimbing anak-anak itu agar penalaran dengan spiritualnya seimbang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/apakah-indigo-sebuah-kelainan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indigo in Wikipedi</title>
		<link>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/about-indigo/</link>
		<comments>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/about-indigo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 09:52:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Indigo is the color on the electromagnetic spectrum between about 420 and 450 nm in wavelength, placing it between blue and violet. Color scientists do not usually recognize indigo as a significant color category, and generally classify wavelengths shorter than about 450 nm as violet.[2]
Indigo and violet are different from purple, which cannot be seen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indigo is the color on the electromagnetic spectrum between about 420 and 450 nm in wavelength, placing it between blue and violet. Color scientists do not usually recognize indigo as a significant color category, and generally classify wavelengths shorter than about 450 nm as violet.[2]</p>
<p>Indigo and violet are different from purple, which cannot be seen on the electromagnetic spectrum but can be achieved by mixing mostly blue and part red light.</p>
<p>One can see spectral indigo by looking at the reflection of a fluorescent tube in a non-recordable compact disc. This works because the CD functions as a diffraction grating, and a fluorescent lamp generally has a peak at 435.833 nm (from mercury), as is visible on the fluorescent lamp spectrum.</p>
<p>Read more: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indigo">http://en.wikipedia.org/wiki/Indigo</a><br />
Complete with color spectrum aura and the meaning of it</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indigo.warnetnews.com/2008/03/24/about-indigo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
